Senin, 02 Juli 2012

Pembukaan Lahan Pemukiman Transmigrasi

Pembukaan Lahan Pemukiman Transmigrasi  atau PLPT salah satu mega proyek yang dilaksanakan pada jaman Orde Baru, yang konon kata nya memindahkan penduduk di Pulau Jawa yang berada dibawah garis kemiskinan. Tapi saat itu banyak pula yang menentang walau tidak berani terang-terangan mengatakan bahwa proyek Transmigrasi adalah salah satu gagasan SUHARTO untuk melakukan JAWANISASI.

Kalo ada hajatan apalagi yang dilakukan oleh PEMDA , dibuka dengan acara POTONG TUMPENG NASI KUNING, bahkan sampe ke Irian Jaya (Papua sekarang.  Terlepas dari itu semua pada awal-awal kegiatan proyek ini (1978 - 1985) memang cukup berhasil meningkatkan taraf hidup transmigran asal Jawa terutama di Pulau Sumatera.


Hal ini dapat terlihat dikala lebaran para transmigran ini bisa pulang ke Jawa dengan naik pesawat. Namun disisi lain timbullah gesekan-gesekan dengan penduduk asli setempat yang merasa di anak tirikan padahal lahan yang ditempati para Transmigrasi itu adalah wilayah mereka kemungkinan juga daerah hutan adat mereka.


Tapi mereka sendiri tidak mendapatkan kompensasi seperti para transmigran yang selama satu tahun pertama sebelum menghasilkan pertaniannya, mendapatkan Jaminan Hidup (JADUP) dari Pemerintah Pusat.. Terlepas dari itu semua pada awal-awal kegiatan proyek ini (1978 - 1985) memang cukup berhasil meningkatkan taraf hidup transmigran asal Jawa terutama di Pulau Sumatera. Hal ini dapat terlihat dikala lebaran para transmigran ini bisa pulang ke Jawa dengan naik pesawat.

Namun disisi lain timbullah gesekan-gesekan dengan penduduk asli setempat yang merasa di anak tirikan padahal lahan yang ditempati para Transmigrasi itu adalah wilayah mereka kemungkinan juga daerah hutan adat mereka. Namun karena notabene yang mempunyai areal HPH adalah para konglomerat yang dekat dengan pemerintahan ataupun yayasan-yayasan militer, maka mereka yang di kambing-hitamkan. JJadi inilah yang menjadi cikal bakal timbulnya sekarang ini apa yang sering terjadi yakni tawuran atau pembataian oleh penduduk asli terhadap pendatang pemukim dari luar pulau. 

Dendam dan rasa kesal yang dipendam selama orde baru 32 tahun seakan pada masa reformasi ini mendapatkan penyalurannya, apalagi bila pemerintah daerah kurang cepat tanggap dan hanya menyelesaikan permasalahan di kalangan elit/tokoh masyarakat setempat tanpa melibatkan pemuka adat dan mencari akar permasalahannya. 

Demkianlah kelanjutan Proyek PLPT ini tahun-tahun selanjutnya mulai dicemari oleh KKN sehingga rumah yang dibangun untuk transmigrasi dewasa itu menurut kata rekan-rekan pemborong "Masih Lebih Bagus Kandang Ayam Probosutejo daripada rumah tnggal Transmigran"

Dan yang lebih parah lagi, kontraktor yang merasa plafond mereka disunat pejabat akhirnya sengaja memperlambat penyiapan lahan dan sengaja menyisakan tunggul kayu sampai transmigran datang. Berhubung Transmigran membutuhkan lahan untuk bercocok tanam, maka mereka terpaksa mengerjakan sendiri pembersihan lahan, pengolahan tanah secara manual


Walaupun mendapat bayaran dari Kontraktor tapi hanyalah 1/4 dari budget yang seharusnya dikeluarkan oleh Kontraktor PLPT Itulah permasalahan yang melingkupi pemidahan penduduk dari Pulau Jawa ke Luar Jawa yang akhirnya hanya menjadi Pemindahan kemiskinan dari Pulau Jawa ke Pulau lain.  

Tidak usah malu kalau kita katakan sekarang faktanya banyak dari Transmigran yang akhirnya hanya menjadi oengemis atau preman di kolong Jembatan Ampera Palembang ataupun mungkin juga di pulau-pulau lain dan kawasan lainnya di Indonesia.


Program Transmigrasi sebetulnya amat baik dan dibutuhkan tapi mana yang buruk kita tinggalkan dan yang baik kita tingkatkan. Semoga para Pemimpin Bangsa bisa menyadari ini




(Budi Syukur (Ir), head of mechanical engineering inspeksi kesiapan dan kesiagaan alat di lapangan, always standby)
siap menuju lokasi 





siap menuju
 lokasi




 
siap menuju
 lokasi






Bersama Ivyet konsultan perminyakan dari Swedia